Kenapa sih orang perlu nulis apa aja yang terjadi di kehidupan mereka?
Mungkin mereka butuh “a noted in mind”, biar sesuatu itu abadi. Ya sepele sih, apa coba yang abadi dari paragraf-paragraf yang isinya curhatan sehari-hari yang ngga penting?

Selama ini otak kita dibiasakan mencerna suatu memori lewat foto atau video, bukan kata-kata yang tidak bisa terucap.


Bagaikan puzzle, jika kepingan-kepingannya disatukan maka akan membentuk suatu panorama. Begitulah sekiranya yang membuat curhatan-curhatan sampah tersebut menjadi serangkaian kata “abadi”. Dari berbagai macam cerita, kita tidak bisa menyimpulkannya hanya dari 1 cerita saja, melainkan ketika kita membaca semua cerita yang kita tulis. Simple bukan?

Ambil sisi positifnya dari segelintir orang yang gemar curhat (atau, ups, galau) lewat tulisannya. Someday mereka akan mengerti apa yang mereka telah lewati. Someday kita bisa liat masa lalu kita dan tersenyum simpul “oh ini toh gue yang dulu hihi”. Nggak jauh beda dengan membuka kembali lembaran album foto, kan?

The reason why did you left, why are we separated is not because I forced you too deep, or my daily presence which made you feel like you’re trapped. But it’s because of your own self. You’re boring and you’ve been wanting to break free. Actually I’m not that bad, I’m not that wrong. It’s because you don’t want me anymore and you didn’t  know what to tell or what to say.

I’m glad I ever asked god to tell me which choice is better, and I think I choosed the better one.

“I’m jaded, stupid, and reckless. Not sorry, and I’ll never regret. This year’s spent so faded and reckless. Not sorry, and I’ll never regret this year” (Mest-Jaded)

Now I have anybody to think about. I’m sorry I take my “key” back from you and save it for myself.

It doesn’t mean I make you an enemy. No. I’m glad you’re happy out there because right now I’m happy with somebody else. Like those cancerians who always wipe the sadness behind your back. I hope we’re good :)

Ragu

Untuk aku dan teman-teman seperjuanganku,

Mungkin selama ini kita ragu. Kita memiliki tanggung jawab yang terlalu banyak dan umumnya tidak ada yang bisa menyelesaikan itu semua dalam satu waktu. Kita memiliki tanggung jawab yang terlalu banyak dan kita terus mencoba menghantamnya. Padahal secara objektif jauh dari satu sudut pandang, kita sebenarnya ragu. Hasilnya selama ini kita terus menerus menyalahkan sesama kita. Kita pikir kita sudah melakukannya, ternyata sampai detik ini belum ada hasilnya! Seharusnya kita bertanggung jawab atas prioritas utama dan mendesak masing-masing. Yang tidak sanggup jangan berpura-pura, segeralah tentukan dan putuskan, jangan ragu! Tapi kita terlanjur ‘sambil menyelam tenggelam’, terlalu banyak air yang terserap di rongga mulut. Penyelesaiannya adalah: jangan ragu! ayo lakukan!

Untuk aku.

Cancerian. Kaya akan tempramental, terlalu fleksibel, ragu, sangat ragu, tidak pernah tegas. Apalagi jika aku termasuk tipe pemikir, maka yang dihasilkan hanya memikirkan keraguan terus menerus. Lambat. Sangat lambat. Sangat lambat dalam memutuskan sesuatu. Looping. Do less talk more think more and more. Seharusnya aku tidak boleh ragu. Tapi inilah variasi yang Tuhan ciptakan, tidak mungkin kan tanpa tujuan yang signifikan? Seharusnya aku dapat memanfaatkan keraguanku. Tidak. Seharusnya keraguanku bermanfaat, bisa menjadikan, at least sesuatu yang positif, terlebih lagi bermanfaat bagi diriku, terlebih lagi lagi untuk siapapun selain aku.

Untuk kamu.

Aku tidak tahu, aku terlalu ragu. Aku harap kamu pun begitu. Doaku dinadimu. Doaku akan kamu dinadiku. Kamu sumber keraguanku, semoga nadi kita terus berfungsi, berdetak sebagaimana nadi menjalankan tugasnya. Oh, semoga kita masih memiliki nadi.

"Terkadang ada masalah yang hanya dapat diselesaikan dengan diam dan berjalan seiringnya waktu."
— Ani Lestari

Alm. Dono & Kasino Warkop- Nyanyian Kode